Monthly Archives: September 2007

One Week Journey to Aceh – part 2

Tujuan kami selanjutnya adalah menuju Takengon. Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar 5 jam. Uhmm.. perjalanan yang panjang, tapi tenang aja.. kami sudah bawa banyak cemilan dan minuman. Kami harus melewati bukit-bukit dengan jalan yang berkelok-kelok. Bahkan suatu waktu, kami harus berhenti karena kabut yang sangat tebal, jadi jarak pandang sangat terbatas.

Sepanjang jalan kita melewati hutan-hutan. Kabarnya dulu pernah menjadi tempat persembunyian GAM. Jalan yang kita lewati tidak terlalu mulus, bahkan ada yang belum diaspal. Jalanan sepi sekali, kampir tidak bertemu mobil lain. Karena terlalu sepi, Hijrah sempat ragu, “Bener gak nih jalannya”. Tapi akhirnya, setelah hampir 3 jam perjalanan, kita ketemu dengan sebuah angkot. Lega rasanya, karena tahu bahwa kita melewati jalan yang benar.

Akhirnya, kota Takengon mulai terlihat. Kota ini dikelilingi oleh perbukitan, ada sebuah danau yang sangat besar, Danau Laut Tawar. Pemandangan di sekelilingnya sangat indah. Karena letak geografisnya, udara di Takengon cukup dingin. Bahkan kamar hotelpun tidak perlu pasang AC.

Keesokan harinya, kita kembali mengunjungi sekolah-sekolah. Cukup sibuk, tapi sangat menyenangkan bisa bicara bersama anak-anak SD. Sore harinya, dengan diantar oleh supir, kami diajak berkeliling danau Laut Tawar. Senang sekali bisa melihat pemandangan disekeliling danau. Suasana yang berbeda dengan apa yang gw jalani sehari-hari di Jakarta.

Untuk makanan, kita sempat mampir ke sebuah warung, dimana kita bisa makan nanas segar.. sedap sekali… apalagi sambil duduk-duduk di serambi dengan pemandangan kebun nanas.

Gw sangat menikmati perjalanan ke Takengon. Mudah-mudahan suatu saat bisa kembali ke sana untuk berlibur dan menikmati suasana.


One Week Journey to Aceh – part 1

Banda Aceh – Meulaboh

Akhirnya keinginan gw untuk pergi ke Aceh kesampaian. Seneeeennnggg banget! Gw penasaran sama keadaan di sana, teruatama setelah tsunami 26 Desember 2004.Gw berangkat naik pesawat Garuda Indonesia yang paling pagi, jam 6.30. Enaknya direct flight tapi gw harus rela bangun subuh-subuh untuk jalan ke bandara. Tapi lumayan lah, bisa tidur sebentar di dalam taksi.

Tapat jam 9.00, gw sudah mendarat di Banda Aceh. Gw dah siap-siap pake name tag kantor supaya dikenali sama driver yang jemput gw di Bandara. Tapi sampai bandara sepi… kok gw ada yang ngeliat gw ya?? Uhmm.. ke manakah dia? Tiba-tiba, ada orang lewat depan gw, jalannya buru-buru, ditangannya bawa kop surat kantor. Naaah.. ini pasti drivernya. Buru-buru gw kejar.. jangan sampai gw ditinggal di bandara πŸ™‚ Dan sampailah diriku di Guest House, rumahnya besar dan nyaman… rasanya seperti di rumah sendiri. Kayaknya lebih enak tingal di sini dari pada di Hotel. Dalam perjalanan dari bandara ke Guest House, gw melewati kuburan masal para korban tsunami. Duuh… rasanya langsung merinding. Gak kebayang waktu itu situasinya seperti apa.

Waktu makan siang, Pak Hadi ngajak makan gado-gado. Katanya gada-gado di situ rasanya paling deket sama rasa gado-gado Jakarta. Ternyata.. setelah gw cobain, rasanya jauh banget sama gado-gado gerobakan di Jakarta. Trus kami balik lagi ke Guest House naik becak motor.

Sore harinya gw dijemput sama Hijrah, diajak jalan-jalan keliling Banda Aceh, tapi sayang gw gak bawa kamera jadi gak bisa foto-foto. Gw mampir ke PLTD apung yang terdampar di daratan. PLTD yang tadinya di tengah laur, terseret gelombang tsunami sampai ke daratan yang jaraknya sekitar 3 km dari pantai. Dan sekarang kapal PLTD itu masih dibiarkan di darat, karena hampir gak mungkin untuk menariknya lagi ke tengah laut. Dan katanya, PLTD itu masih berfungsi dengan baik. Selain itu, keberadaan kapal tersebut di darat juga menjadi salah satu monumen peringatan bencana tsunami. Setelah itu, Hijrah ngajak gw ke pesisir pantai, Ulhe Lheue, lagi-lagi melewati kuburan masal para korban tsunami. Kuburan ini terawat dengan baik dan terlihat bersih. Tulisan Arab diukir di dinding-dinding kuburan itu. Tapi sayang, gw gak sempat masuk untuk melihat lebih dekat.

Sepanjang kurang lebih 1 km menuju pantai, kita sudah bisa melihat kompleks-kompleks perumahan. itu adalah rumah-rumah bantuan yang dibangun setelah bencana tsunami. Rumahnya gak terlalu besar, imut-imut tapi bagus. Tepat di pinggir pantai, ada satu atau dua bangunan yang hancur dihantam gelombang tsunami.

Menurut gw suasana kotanya enak, yang jelas gak serame Jakarta. Dan kalau kita perhatikan, semua perempuan memakai jilbab, temasuk gw… harus jaga-jaga dari pada distop karena gak pake jilbab, dan setelah itu bisa diceramahin selama berjam-jam.. katanya…

Keesokan harinya, gw berangkat ke Meulaboh dengan UN Flight. Dalam perjalanan ke bandara, Hijrah cerita mengenai pengalamannya sewaktu naik pesawat itu. Pesawatnya kecil, kurang lebih hanya untuk 25 orang saja termasuk pilot dan co-pilot. Dan saat itu cuaca buruk dan angin kencang, jadi karena pesawatnya kecil dan ringan, sering kali oleng karena angin. Gw sempet gugup juga, tapi untunglah cuacanya bagus dan it was a nice flight for me. πŸ™‚

Sampai di Meulaboh, kami langsung ke sekolah-sekolah SD untuk pre-test logo. Interview dengan beberapa kelompok anak SD mengenai karakter anak sekolah yang kiamibuat. Apakah mereka suka dan bisa mewakilan sosok anak sekolah di Aceh. Gw tinggal di Meulaboh selama 2 hari. Jadwalnya padet banget sampai gak kesampaian mau nengok pantai Meulaboh yang juga dilanda tsunami. Tapi walaupun begitu gw masih sempat icip-icip makanannya. Makanan yang paling enak di sana adalah seafood-nya. Karena gw pecinta udang, rasanya nikmat banget bisa makan udang banyak-banyak. πŸ™‚

Sepanjang perjalanan menuju SD Kuala Trang, kita juga bisa melihat rumah-rumah yang baru dibangun setelah tsunami. Sebagian besar rumah mereka sudah permanen. Tapi ada beberapa rumah yang menarik perhatian gw. Sebuah rumah 2 tingkat yang dibuat dari kayu, menurut gw rumah kayu itu keren banget, apalagi yang terawat. Bentuknya seperti bungallow. Dan uniknya lagi setiap rumah pasti ada parabola, karena mereka gak bisa menangkap siaran TV tanpa parabola itu.

Hari terakhir di Meulaboh, kita masih keliling ke sekolah-sekolah. Sekitar jam 12 siang, kita melanjutkan perjalanan ke Takengon lewat darat, dengan lama perjalanan 5 jam. (bersambung)



Gempa di Sumatra

12 September 2007 — Sekitar jam 18.10 WIB terjadi gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang Bengkulu dan sekitarnya. Waktu itu gw masih di kantor sama Felis. Rencanya baru mau pulang sekitar jam 7. Felis kirim chattingan via YM, “barusan ada gempa”, tapi gw baru bacanya 15 menit kemudian. Kaget juga baca chattingan, soalnya gw tidak merasakan adanya gempa sama sekali. Padahal gw lagi duduk manis di depan komputer.

Ternyata pusat gempa ada di sekitar 159 km barat daya Bengkulu. Gw dan Felis cepat-cepat menghubungi anak-anak lapangan di Bengkulu, Riau dan Padang. Tapi sampai setengah jam belum juga bisa nyambung ke salah satu dari mereka. Akhirnya gw kirim sms ke mereka semua… tinggal tunggu aja balasannya. Mudah-mudahan mereka semua dalam keadaan baik-baik. Sementara itu Felis masih rajin coba untuk dial nomor telepon anak-anak di lapangan, sampai jarinya keriting. Hihihi…

Tak lama kemudian, Akim, Provincial Manager dari Bengkulu telepon ke hp gw. Menurut Akim, guncangannya sangat kencang sampai terdengar suara gemuruh seperti suara pesawat. Orang-orang panik dan berhamburan keluar. Setelah Akim menelepon, beberapa field officer kirim sms satu persatu, mengabarkan bahwa mereka baik-baik saja. Termasuk field officer yang ada di Riau dan Padang yang juga mengalami gempa sebagai imbas gempa Bengkulu. Masyarakat di Padang juga panik dan mereka segera keluar rumah. Banyak diantara mereka yang lari ke tempat yang lebih tinggi karena dikabarkan gempa ini berpotensi tsunami. Dilaporkan banyak bangunan yang rusak. Dilaporkan ada beberapa korban jiwa yang meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan bangunan.

Akhirnya setelah menelepon ke sana-sini, gw dan Felis pulang, tepat pukul jam 9.15 malem. Perut rasanya laper, tapi kalau makan dulu pasti pulangnya kemaleman. Tapi begitu sampai rumah, males makan juga dan langsung tidur. Pagi ini harus bagun sebelum subuh untuk puasa sahur. Mudah-mudahn puasa kali ini diberi kekuatan dan berkah yang melimpah, walaupun awal bulan puasa ini sudah diberi cobaan berupa gempa bumi.

Selamat menjalankan ibadah puasa!


Warung Daun

Selasa, 11 September 2007 — Kali ini Tim Yama-yama kumpul lagi sebelum bulan puasa. Pagi-pagi Tim Yama-yama (minus Indri) meeting lewat YM.. Entah apa yang ada dipikiran Lena, karena Cici kita yang satu ini menganggap ada hal istimewa — apa mau ada announcement?, katanya — sampai kita perlu ketemuan… Dan kayaknya Lena juga lagi laper ya.. soalnya dia keukeh ketemuannya harus makan, gak mau ngupi-ngupi lagi –secara, dia juga gak suka ngupi–. Padahal biasanya Lena makan paling sedikit. Restoran pertama yang disebut adalah Restoran Manado di daerah Kemang. Kayaknya Lena suka banget nih sama Resto ini, karena dia udah beberapa kali promosi ke gw. Selain Resto Manado, muncullah beberapa nama resto lain, diantaranya Payon dan Warung Daun. Dan tiba-tiba Sanis udah copy paste alamat lengkap cabang-cabang Warung Daun di Jakarta. Hahahaha… MANTAP!!!!. Akhirnya ketok palu juga, kita ketemuan di Warung Daun Wolter Monginsidi. Jam 6 sore, gw udah berdiri dengan manisnya di pinggrir jalan Kemang, nunggu diciduk sama Ci Lena. Gak berapa Lama kemudian, datanglah kijang birunya itu, yang penuh dengan boneka-boneka bergelantungan. Dan dia sudah meyakinkan gw kalau dia tau bener di mana Warung Daun Wolter Monginsidi itu berada. Ternyata, dia hampir belok ke arah Paku Buwono.. hehehe… Memang sih di Pakubuwono ada Warung Daun, tapi kita janjiannya kan di Wolter Monginsidi. Akhirnya kita sampai juga di restonya. Sanis & Indri udah nyampe duluan. Trus kita pilih-pilih menu. Malem ini kita pesen paket Nasi Liwet a la Warung Daun yang porsinya cukup untuk 4 orang. Kebetulan sudah termasuk Jus Sirsak kesukaan gw.. Makanannya enak… sambelnya mantep bangeeet… kita sampe kekenyangan. Asiiik… Nah, sambil nunggu makanan, kita sempet jeprat-jepret sebentar. Nih dia hasil jepretannya….




 

 

Sebelum puasa, gw mau ngucapin MAAF LAHIR BATHIN ya cheres amies.. Maaf kalo ada salah-salah kata. πŸ™‚
Doain ya mudah2an puasa gw dan Indri kali ini lancar. Amieeeen…


Oh ya, Good luck buat Sanis… Mudah2an lancar juga ya, “the big moment”-nya. Untuk Indri, “Terus maju pantang mundur dengan tesisnya”. Dan terakhir untuk Lena… Jangan meyerah, terus hunting!!! :)See you soon les filles!! 

 



%d bloggers like this: