One Week Journey to Aceh – part 1

Banda Aceh – Meulaboh

Akhirnya keinginan gw untuk pergi ke Aceh kesampaian. Seneeeennnggg banget! Gw penasaran sama keadaan di sana, teruatama setelah tsunami 26 Desember 2004.Gw berangkat naik pesawat Garuda Indonesia yang paling pagi, jam 6.30. Enaknya direct flight tapi gw harus rela bangun subuh-subuh untuk jalan ke bandara. Tapi lumayan lah, bisa tidur sebentar di dalam taksi.

Tapat jam 9.00, gw sudah mendarat di Banda Aceh. Gw dah siap-siap pake name tag kantor supaya dikenali sama driver yang jemput gw di Bandara. Tapi sampai bandara sepi… kok gw ada yang ngeliat gw ya?? Uhmm.. ke manakah dia? Tiba-tiba, ada orang lewat depan gw, jalannya buru-buru, ditangannya bawa kop surat kantor. Naaah.. ini pasti drivernya. Buru-buru gw kejar.. jangan sampai gw ditinggal di bandara 🙂 Dan sampailah diriku di Guest House, rumahnya besar dan nyaman… rasanya seperti di rumah sendiri. Kayaknya lebih enak tingal di sini dari pada di Hotel. Dalam perjalanan dari bandara ke Guest House, gw melewati kuburan masal para korban tsunami. Duuh… rasanya langsung merinding. Gak kebayang waktu itu situasinya seperti apa.

Waktu makan siang, Pak Hadi ngajak makan gado-gado. Katanya gada-gado di situ rasanya paling deket sama rasa gado-gado Jakarta. Ternyata.. setelah gw cobain, rasanya jauh banget sama gado-gado gerobakan di Jakarta. Trus kami balik lagi ke Guest House naik becak motor.

Sore harinya gw dijemput sama Hijrah, diajak jalan-jalan keliling Banda Aceh, tapi sayang gw gak bawa kamera jadi gak bisa foto-foto. Gw mampir ke PLTD apung yang terdampar di daratan. PLTD yang tadinya di tengah laur, terseret gelombang tsunami sampai ke daratan yang jaraknya sekitar 3 km dari pantai. Dan sekarang kapal PLTD itu masih dibiarkan di darat, karena hampir gak mungkin untuk menariknya lagi ke tengah laut. Dan katanya, PLTD itu masih berfungsi dengan baik. Selain itu, keberadaan kapal tersebut di darat juga menjadi salah satu monumen peringatan bencana tsunami. Setelah itu, Hijrah ngajak gw ke pesisir pantai, Ulhe Lheue, lagi-lagi melewati kuburan masal para korban tsunami. Kuburan ini terawat dengan baik dan terlihat bersih. Tulisan Arab diukir di dinding-dinding kuburan itu. Tapi sayang, gw gak sempat masuk untuk melihat lebih dekat.

Sepanjang kurang lebih 1 km menuju pantai, kita sudah bisa melihat kompleks-kompleks perumahan. itu adalah rumah-rumah bantuan yang dibangun setelah bencana tsunami. Rumahnya gak terlalu besar, imut-imut tapi bagus. Tepat di pinggir pantai, ada satu atau dua bangunan yang hancur dihantam gelombang tsunami.

Menurut gw suasana kotanya enak, yang jelas gak serame Jakarta. Dan kalau kita perhatikan, semua perempuan memakai jilbab, temasuk gw… harus jaga-jaga dari pada distop karena gak pake jilbab, dan setelah itu bisa diceramahin selama berjam-jam.. katanya…

Keesokan harinya, gw berangkat ke Meulaboh dengan UN Flight. Dalam perjalanan ke bandara, Hijrah cerita mengenai pengalamannya sewaktu naik pesawat itu. Pesawatnya kecil, kurang lebih hanya untuk 25 orang saja termasuk pilot dan co-pilot. Dan saat itu cuaca buruk dan angin kencang, jadi karena pesawatnya kecil dan ringan, sering kali oleng karena angin. Gw sempet gugup juga, tapi untunglah cuacanya bagus dan it was a nice flight for me. 🙂

Sampai di Meulaboh, kami langsung ke sekolah-sekolah SD untuk pre-test logo. Interview dengan beberapa kelompok anak SD mengenai karakter anak sekolah yang kiamibuat. Apakah mereka suka dan bisa mewakilan sosok anak sekolah di Aceh. Gw tinggal di Meulaboh selama 2 hari. Jadwalnya padet banget sampai gak kesampaian mau nengok pantai Meulaboh yang juga dilanda tsunami. Tapi walaupun begitu gw masih sempat icip-icip makanannya. Makanan yang paling enak di sana adalah seafood-nya. Karena gw pecinta udang, rasanya nikmat banget bisa makan udang banyak-banyak. 🙂

Sepanjang perjalanan menuju SD Kuala Trang, kita juga bisa melihat rumah-rumah yang baru dibangun setelah tsunami. Sebagian besar rumah mereka sudah permanen. Tapi ada beberapa rumah yang menarik perhatian gw. Sebuah rumah 2 tingkat yang dibuat dari kayu, menurut gw rumah kayu itu keren banget, apalagi yang terawat. Bentuknya seperti bungallow. Dan uniknya lagi setiap rumah pasti ada parabola, karena mereka gak bisa menangkap siaran TV tanpa parabola itu.

Hari terakhir di Meulaboh, kita masih keliling ke sekolah-sekolah. Sekitar jam 12 siang, kita melanjutkan perjalanan ke Takengon lewat darat, dengan lama perjalanan 5 jam. (bersambung)


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: