Christmas’ long week-end 2009

Long week-end, setelah mendengar kata ini, bermacam-macam rencana akan bermunculan di benak setiap orang. Mulai dari rencana seru, sampai rencana gila. Di Negeri Pintong-Pintong Land, satu minggu menjelang libur Natal, aku dan teman-teman pintongers sudah sibuk merencanakan berbagai kegiatan untuk mengisi akhir pekan yang panjang. Dan akhirnya diputuskan bahwa liburan ini akan dimulai dengan suatu “kegilaan kecil” di kamis malam bersama teman-teman, di kamar kost-ku, tepatnya di lantai 4, pinggir kali. Kegilaan macam apakah yang kami lakukan? Kegilaan yang dianggap tidak seberapa untuk orang-orang yang biasa melakukannya, tapi untuk kami, hal itu sudah cukup menyenangkan; dengan bumbu mati lampu dan diterangi cahaya lilin membicarakan hal yang serba “ngaco”.

Jum’at, 24 Desember 2009. Kesenangan tidak berhenti sampai di situ, Jum’at siang, diawali dengan Breakfast Club di warung kopi terdekat, akhirnya kami bertolak menuju pantai Ujung Batee dengan bersepeda motor, menempuh sekitar 17 km keluar kota Banda Aceh. Sampai di sana, kami disuguhi oleh pemandangan alam yang indah dengan suara ombak yang mengalun tiada akhir. Sebuah kelapa segar menemani santainya liburan kami yang tidak hentinya bicara, tertawa dan bermain — permainan tradisional yang biasa kami mainkan sewaktu kecil–. Akhirnya mataharipun mulai menghilang dan kami harus pulang, namun sebelumnya kami menerima sebuah kejutan kecil di mana kami harus membayar sewa tenda tempat kami duduk seharga Rp. 50,000,-/jam, yang menurut kami tidak masuk akal. Sempat terjadi adu mulut dengan pemilik warung, beruntunglah ada Icut, yang tidak terbawa emosi dan pada akhirnya bicara baik-baik dengan si pemilik warung –setelah ditinggal teman-teman lainnya yang “ngacir” duluan karena marah–. Perjalananpun diakhiri dengan makan malam di salah satu warung kopi Banda Aceh, dekat stadion Lhong Raya.

Sabtu, 25 Desember 2009. Cuaca hari itu tidak berpihak pada kami dan mengharuskan aku menghabiskan hari di kamar kost-ku bersama Piva yang asik dengan mainan barunya –Photoshop–. Cuaca buruk bukanlah hal besar untuk perut-perut yang lapar, mengalahkan malas dan nyamannya meringkuk di bawah selimut yang hangat. Akhirnya, kami meluncur ke salah satu restaurant fast food terdekat dan setelah itu meluncur menembus hujan rintik-rintik menuju museum tsunami melihat penampilan Icut bermain jimbe bersama Koda dalam rangka acara peringatan 5 tahun tsunami. Koda, group perkusi Banda Aceh, membawakan beberapa lagu Aceh yang terkenal. All I can say is, “OSOM” as Genta said. Acara ditutup dengan lagu Bungong Jeumpa dengan begitu “keren”-nya.

Minggu, 26 Desember 2009. Kembali, cuaca buruk menghiasi hari Minggu ini. Lagi-lagi, aku menghabiskan waktu di kamar kost, meringkuk di bawah selimut, sambil nonton DVD dan makan Coco Crunch. Sementara Piva, masih tetap asik dengan Photoshopnya. Dan sore hari, saat hujan sudah mulai reda, Iros dan Yuyun menarik kami keluar dari kamar untuk nge-bakso, dilanjutkan dengan mampir ke PLTD Apung di Punge untuk melihat pemecah rekor MURI untuk pembacaan hikayat Aceh selama lebih dari 26 jam, and then we did the”girl stuff” for hours. Setelah makan malam di warung kopi, kami kembali ke peraduan masing-masing, walaupun Iros dan Bayu harus terlambat pulang karena mampir di tempat tambal ban.Long week-end, akhir pekan yang panjang, banyak hal yang dilakukan dan penuh kebersamaan teman-teman terdekat. I don’t know what I can do without you, guys!!! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: